GULE GENDING, HARMONI BUNYI YANG TERLUPA
Matahari baru saja naik setinggi tombak. Udara pagi di Selong masih segar. Dingin. Khas Lombok Timur.
Saya ikut arus orang menuju Taman Rinjani. Hari Minggu. Car free day. Ribuan orang memadati jalan. Ada yang jogging. Ada yang bersepeda. Ada juga yang hanya duduk-duduk di pinggir jalan, menikmati pagi.
Tapi telinga saya menangkap sesuatu yang lain.
Pung... pung... tab... tab...
Bunyi itu samar-samar. Seperti orang menabuh gendang kecil. Tapi ritmenya khas. Tidak seperti gendang pada umumnya.
Saya cari sumber suara itu. Mata saya awasi satu per satu orang di keramaian.
Lalu saya lihat dia.
Seorang kakek-kakek berjalan pelan. Usianya pasti sudah di atas 80 tahun. Badannya agak membungkuk. Di pinggangnya tersandang sebuah kotak aluminium berbentuk setengah lingkaran. Tangan kanannya memukul-mukul kotak itu. Iramanya teratur. Tidak cepat. Tidak lambat.
Pung... pung... tab... tab...
Di sekelilingnya, anak-anak kecil mulai berkerumun. Mereka tahu. Itu pertanda ada jajanan enak.
Saya dekati kakek itu. Dari kejauhan saya baca tulisan di kotaknya. Tidak ada. Hanya aluminium polos. Tapi di bagian depan, ada enam kotak kecil. Enam ruang. Masing-masing dipukul dengan telapak tangan. Menghasilkan nada berbeda.
Saya lihat dagangannya. Di bagian belakang kotak itu, ada tiga tempat menyimpan sesuatu. Sesuatu yang berwarna merah, putih, dan hijau. Seperti rambut. Seperti kapas. Seperti awan kecil yang manis.
Gula gending.
Itu pertama kali saya lihat langsung setelah puluhan tahun hanya mendengar cerita.
KENANGAN YANG MANIS
Saya orang Lombok. Tumbuh besar di pulau ini. Tapi jujur saja, sudah bertahun-tahun saya tidak melihat gula gending. Jajanan ini seperti hilang ditelan zaman. Tertelan oleh modernitas. Tertelan oleh snack pabrikan yang bungkusnya warna-warni.
Dulu, waktu kecil, setiap kali mendengar bunyi pung pung tab tab dari kejauhan, saya dan teman-teman akan lari terbirit-birit. Kami cari uang receh di saku. Atau kadang harus minta dulu ke ibu.
"Sabar, Nak. Nanti ibu kasih."
Tapi mana bisa sabar. Bunyi itu semakin lama semakin jauh. Pedagang gula gending tidak pernah menunggu. Mereka terus berjalan. Terus memukul kotak dagangannya. Terus meninggalkan kami yang masih meraba-raba saku celana.
Dan ketika akhirnya uang receh didapat, kami harus berlari mengejar. Napas terengah-engah. Tapi senang sekali begitu tangan menerima gulungan kertas yang berisi gula kapas halus itu.
Saya ingat, harganya dulu cuma seratus perak. Satu lembar uang logam bergambar garuda. Sekarang?
"Lima ribu," kata kakek itu sambil tersenyum.
Saya kaget. Tapi langsung sadar. Ini 2025. Inflasi sudah merambat kemana-mana. Termasuk ke gula gending.
HAJI SAHDAN, SANG PEJUANG JALAN KAKI
Kakek itu bernama H Sahdan. Usianya 85 tahun. Sudah 43 tahun ia berkeliling berjualan gula gending. Sejak tahun 1982.
"Saya mulai umur 42 tahun," katanya sambil mengatur posisi duduk di pinggir trotoar. "Sekarang cucu saya sudah S2. Tapi saya masih jualan."
Saya hitung. 1982. Itu tahun saya masih SD. Tahun-tahun di mana Indonesia masih repot dengan proyek mobil nasional. Tahun di mana gula gending masih mudah ditemui di setiap sudut kampung.
H Sahdan berasal dari Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur. Desa yang sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai kampungnya para pedagang gula gending.
"Saya ini hanya lulusan SR," katanya sambil tertawa memperlihatkan sisa gigi yang tinggal beberapa. "Tapi anak saya sarjana. Cucu saya S2. Berkat gula gending ini."
Ia tepuk kotak aluminium di depannya. Bunyinya nyaring. Seperti ikut bangga.
H Sahdan adalah satu dari ribuan pria asal Kembang Kerang yang merantau dengan gula gending. Mereka tidak hanya berkeliling di Lombok. Tapi sampai ke Sumbawa, Dompu, Bima. Bahkan ada yang menyeberang ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Bali, dan Jawa.
"Di Kalimantan Selatan, saya pernah berangkat bareng 40 orang dari kampung. Semua jualan gula gending. Kami sebar di semua kabupaten."
Saya bayangkan. Empat puluh orang. Dengan rombong masing-masing. Berjalan kaki. Menabuh irama masing-masing. Di pulau sebesar Kalimantan. Luar biasa.
"Jalan kaki terus?"
"Jalan kaki terus. Seharian. Dari pagi sampai sore. Kalau capek, istirahat di masjid. Atau di pinggir jalan. Tidak masalah."
Saya lihat kakinya. Masih kuat. Meski usianya sudah 85.
RAHASIA DI BALIK WARNA-WARNI
Saya penasaran. Bagaimana sebenarnya gula gending dibuat?
"Boleh lihat prosesnya?" tanya saya.
H Sahdan mengangguk. Ia ajak saya ke rumah kontrakannya di daerah Sindu, Cakranegara, Mataram. Di sana, tinggal lima orang perantau asal Kembang Kerang. Satu rumah mereka kontrak bersama. Semua penjual gula gending.
"Saya tinggal di sini sama keluarga. Tapi sering pulang kampung. Sebulan sekali," katanya.
Sore itu, mereka mulai membuat gula gending untuk jualan besok. Prosesnya ternyata tidak sederhana.
Pertama, gula pasir dimasak dengan air sampai mendidih dan agak mengental. Di wajan lain, tepung terigu dimasak dengan minyak kelapa. Diaduk sampai mendidih dan menggumpal. Lalu didinginkan.
Gula yang sudah masak diturunkan. Dicampur dengan pewarna makanan. Merah, hijau, atau putih. Diaduk rata. Lalu wajan diletakkan di atas ember berisi air. Sambil terus diaduk dan dibolak-balik sampai mengental dan padat.
"Yang ini proses pendinginan," kata Fahmi, teman H Sahdan. "Harus sabar. Tidak boleh tergesa-gesa."
Setelah itu, adonan tepung dan minyak yang sudah menggumpal ditabur di atas aluminium besar. Gula yang sudah padat dimasukkan. Dicampur. Diputar. Dibolak-balik.
"Mulai proses ini harus dua orang," kata Fahmi.
Kurang lebih lima belas menit, gula mulai terpisah. Menjadi serat-serat halus. Seperti rambut. Seperti bulu kucing. Lalu dengan kayu khusus, serat-serat itu diurai. Dibongkar. Sampai benar-benar terpisah.
Yang menarik, minyak kelapa dan tepung terigu yang dimasak tadi adalah kunci utamanya. Tanpa itu, gula tidak akan bisa menjadi serat halus.
"Proses selesai. Gula gending harus langsung dimasukkan ke rombong. Tidak boleh dibuka sampai besok pagi," kata Fahmi.
Ia jelaskan, kalau dibuka, udara masuk. Gula gending bisa mengempes. Tidak awet.
Dari 2 kilogram gula pasir, setengah kilogram tepung terigu, dan setengah kilogram minyak kelapa, mereka bisa dapat hasil kotor Rp150 ribu keesokan harinya.
"Saya habis 2 kilogram sehari. Kadang lebih. Tergantung modal," kata H Sahdan.
Saya hitung. Sebulan tanpa libur, penghasilan kotornya bisa mencapai Rp4,5 juta. Lumayan besar untuk pekerjaan yang mereka sebut "sampingan".
MERAN, GENERASI KEDUA YANG TAK KENAL LELAH
Dari Sindu, saya melanjutkan perjalanan. Mencari pedagang gula gending lain. Kata H Sahdan, di Mataram masih ada beberapa. Tapi jumlahnya terus berkurang.
Saya temukan Meran di kawasan Pagesangan. Usianya 70 tahun. Badannya masih tegap. Matanya masih tajam.
"Saya jualan sejak umur 15 tahun," katanya sambil memukul-mukul rombongnya. Bunyinya lain dari punya H Sahdan. Lebih nyaring. Lebih bulat.
"Ini rombong tua. Usia puluhan tahun. Makin tua, makin nyaring bunyinya."
Meran adalah generasi kedua penjual gula gending. Ia mewarisi usaha dari orang tuanya. Kini, anak dan cucunya juga ikut.
"Saya punya 10 anak. Cucu 24. Semua sekolah. Ada yang jadi sarjana. Berkat gula gending."
Ia cerita, dulu tahun 1970-an, ia sudah berkeliling jualan. Bukan hanya di Lombok. Tapi sampai ke seluruh Indonesia.
"Hampir 34 provinsi sudah saya datangi. Dari Sabang sampai Merauke."
Saya kaget. 34 provinsi. Jalan kaki.
"Naik apa ke sana?" tanya saya.
"Naik kapal. Naik bus. Tapi begitu sampai di kota tujuan, jalan kaki. Dari pagi sampai sore. Kadang sampai malam."
Meran bercerita, dulu mereka berkelompok. Puluhan orang dari satu desa berangkat bersama. Begitu sampai di kota, mereka sebar. Masing-masing ambil wilayah. Ada yang dapat wilayah utara, selatan, timur, barat. Mereka tidak boleh saling merebut wilayah.
"Sudah kesepakatan. Kalau ada yang melanggar, bisa ribut."
Saya tanya, bagaimana dengan anak muda sekarang? Apakah ada yang mau meneruskan?
Meran menggeleng pelan. "Anak muda sekarang maunya kerja di kantor. Pakai dasi. Duduk di AC. Tidak mau jalan kaki seharian."
Tapi ia bersyukur, cucunya ada yang masih mau. Rian namanya. Usia 33 tahun. Sekarang ikut jualan juga.
"Saya akan terus jualan sampai tidak kuat lagi," kata Meran tegas. "Ini usaha orang tua. Harus dilanjutkan."
ALAT MUSIK YANG TAK TERDUGA
![]() |
| Ilustrasi Pedagang Gule Gending |
Di diskusi yang diadakan ANTARA NTB beberapa waktu lalu, Meran dan Rian diundang. Mereka diminta memainkan gula gending di depan pegiat seni dan budaya.
Ary Juliyant, musisi bluegrass asal Lombok, terkesima.
"Ini luar biasa. Ini mirip dengan alat musik di Amerika Tengah yang memanfaatkan tong minyak sebagai tetabuhan. Gula gending punya potensi besar sebagai alat musik baru."
Abeng, sastrawan Lombok, menyebut gula gending sebagai "eksotika bunyi terlupa".
"Saya bayangkan kalau dimainkan secara kolosal, puluhan gula gending bersama-sama. Luar biasa harmoninya."
Di acara itu, banyak peserta mencoba memainkan gula gending. Hasilnya? Kacau.
"Sulit sekali. Padahal saya pukul persis seperti Pak Meran. Kok bunyinya beda?"
Meran tertawa. "Tidak bisa langsung bisa. Perlu tahunan. Saya saja butuh bertahun-tahun untuk bisa memainkan dengan baik."
Rian menambahkan, bunyi gula gending bisa terdengar sampai 200 meter. Cukup untuk memanggil pembeli dari kejauhan.
"Semakin kosong dagangan, semakin kencang bunyinya. Karena kita semakin semangat."
Saya coba perhatikan. Rombong Meran punya enam kotak di bagian depan. Masing-masing menghasilkan nada berbeda. Ada yang bunyinya "pung", ada yang "tak", ada yang "tung". Kombinasinya menghasilkan irama yang khas.
"Membuat rombongnya juga susah," kata Meran. "Biayanya Rp3 sampai 4 juta. Saya patri dan solder sendiri. Tidak bisa pesan ke orang lain. Harus dibuat sendiri, dengan hati ikhlas. Kalau tidak ikhlas, bunyinya tidak akan bagus."
Ia pegang teguh prinsip itu. Alat ini adalah "sawah" nya. Sumber penghidupannya. Harus dirawat. Harus dibuat dengan penuh perasaan.
DARI KEMBANG KERANG UNTUK DUNIA
Saya putuskan pergi ke sumbernya. Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur.
Perjalanan dari Mataram sekitar dua jam. Melewati persawahan hijau. Melewati bukit-bukit kecil. Udara semakin sejuk.
Kembang Kerang adalah desa yang tenang. Sawah terbentang luas. Sapi-sapi diikat di pinggir jalan. Suasana pedesaan yang khas.
Tapi desa ini punya cerita besar. Dari sinilah, ribuan pria berangkat merantau dengan gula gending. Mereka menyebar ke seluruh Indonesia. Bahkan sampai ke mancanegara.
"Saya dengar ada yang sampai ke Malaysia," kata seorang warga.
Di Kembang Kerang, gula gending bukan sekadar jajanan. Ia adalah identitas. Mata pencaharian. Bahkan jalan menuju pendidikan tinggi.
Penelitian dari Universitas Mataram menyebutkan, Tuan Guru (tokoh agama) di desa ini punya peran besar. Mereka membangun konstruksi sosial bahwa gula gending adalah pekerjaan mulia.
"Gula gending itu sa'yan ala ilaihi (pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga)," begitu pesan Tuan Guru turun-temurun. "Gula gending itu halal dan berkah. Thalaba ad-dunya halalan."
Pesan itu diinternalisasi oleh masyarakat. Dari generasi ke generasi.
Hasilnya? Luar biasa. Banyak penjual gula gending yang berhasil menyekolahkan anak hingga jenjang sarjana, magister, bahkan doktor. Mereka juga bisa naik haji dari hasil berjualan gula gending.
H Sahdan adalah salah satunya. Ia sudah naik haji. Anaknya sarjana. Cucunya S2.
"Ini semua berkat gula gending," katanya bangga.
WARISAN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH
November 2024 lalu, kabar gembira datang dari Kementerian Kebudayaan. Gula Gending resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia asal NTB.
Penetapan ini datang tepat waktu. Karena faktanya, gula gending semakin langka.
"Dulu, tahun 80-90an, setiap sudut kampung ada pedagang gula gending. Sekarang? Di Mataram mungkin tinggal belasan orang," kata Aidy Furqan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB.
Saya coba hitung. Penjual yang saya temui: H Sahdan (85), Meran (70), Rian (33), dan beberapa orang di Sindu. Itu pun kebanyakan sudah uzur.
Siapa yang akan meneruskan?
Rian adalah satu-satunya generasi muda yang saya temui. Ia masih 33 tahun. Masih kuat jalan kaki. Masih semangat.
"Saya lihat teman-teman sebaya lebih milih kerja di toko, di bengkel, atau merantau jadi TKI. Jualan gula gending dianggap kuno."
Tapi Rian punya pandangan berbeda. "Ini warisan. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?"
Ia sadar, tantangannya berat. Anak-anak sekarang lebih suka jajan di minimarket. Lebih suka snack bungkus dengan iklan di TV. Tapi ia tetap optimis.
"Yang pernah merasakan gula gending waktu kecil, pasti akan cari lagi. Mereka kangen. Itu pasar saya."
GENDING YANG TERUS BERGEMA
Malam semakin larut. Saya duduk di teras rumah kontrakan H Sahdan di Sindu. Dari dalam, terdengar suara irama gula gending. Mereka sedang berlatih. Atau mungkin hanya bermain-main.
Pung... pung... tab... tab...
Bunyinya merdu. Menenangkan. Seperti detak jantung yang lambat. Seperti irama kehidupan yang terus berjalan.
Saya ingat kata Abeng, "Gula gending adalah harmoni bunyi yang terlupa."
Benar. Kita terlalu sibuk dengan hiruk pikuk modernitas. Dengan musik-musik digital. Dengan suara notifikasi ponsel. Kita lupa bahwa di sekitar kita, masih ada bunyi-bunyi indah seperti ini.
Bunyi yang lahir dari kesederhanaan. Dari aluminium bekas yang disusun. Dari telapak tangan yang memukul penuh irama. Dari hati yang ikhlas mencari nafkah halal.
Besok pagi, H Sahdan akan kembali berjalan. Menyusuri jalan-jalan Mataram. Memukul gula gendingnya. Memanggil pembeli. Menyapa anak-anak yang mungkin belum pernah lihat jajanan seperti ini.
Ia akan berjalan sampai sore. Lalu pulang. Membuat adonan lagi. Dan esoknya, berjalan lagi.
Di usianya yang 85, ia masih setia. Masih teguh. Masih percaya bahwa gula gending adalah jalan hidupnya.
Saya tanya, sampai kapan akan terus jualan?
"Sampai saya tidak kuat lagi. Tapi selama kaki masih bisa melangkah, saya akan terus berjalan. Gula gending ini bukan sekadar jualan. Ini hidup saya."
Ia menepuk rombongnya. Bunyi nyaring terdengar. Seperti setuju.
RASA YANG TAK TERLUPA
Sebelum pulang, saya beli satu bungkus gula gending dari H Sahdan. Lima ribu rupiah. Dibungkus kertas bekas. Warna merah muda.
Saya sobek sedikit. Ambil serat halus itu. Masukkan ke mulut.
Rasanya... manis. Sangat manis. Begitu masuk, langsung lumer. Seperti kapas terkena air. Tapi ada sensasi berbeda. Mungkin karena dibuat dengan minyak kelapa asli. Atau mungkin karena kenangan.
Saya ingat masa kecil. Ingat lari mengejar pedagang gula gending. Ingat tangan belepotan karena gula lengket. Ingat senyum ibu yang memberi uang receh.
Rasa itu kembali. Setelah puluhan tahun hilang.
Terima kasih, H Sahdan. Terima kasih, Meran. Terima kasih, para pejuang gula gending yang masih setia berjalan kaki di tengah terik matahari. Kalian tidak sekadar menjual jajanan. Kalian menjual kenangan. Menjual sejarah. Menjual warisan yang tak ternilai.
Pung... pung... tab... tab...
Suara itu semakin jauh. H Sahdan melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan yang tak pernah habis. Membawa gula gending, membawa warisan budaya, membawa sepotong hati Lombok yang terus berdetak.
Semoga tidak pernah benar-benar punah. Semoga masih ada Rian-Rian lain yang mau meneruskan. Semoga gula gending tetap bergema, menjadi harmoni yang tak terlupa.
Di tengah gempuran modernitas, di tengah hiruk pikuk media sosial, di tengah anak-anak yang lebih akrab dengan gawai daripada jajanan tradisional, kita masih punya harapan.
Selama kaki masih bisa melangkah, selama tangan masih bisa menabuh, selama gula masih bisa diolah menjadi serat-serat halus, gula gending akan tetap hidup.
Sebagai jajanan. Sebagai musik. Sebagai identitas. Sebagai kebanggaan.
Sebagai Lombok yang tak pernah berhenti berkarya.
Pung... pung... tab... tab...
Dengarkan. Itu suara gula gending. Jangan diabaikan. Karena di balik bunyi itu, ada jutaan cerita. Ada perjuangan. Ada air mata. Ada kebahagiaan. Ada masa lalu yang terus ingin diingat.
Dan ada masa depan yang harus dijaga.
- SELESAI -


Posting Komentar untuk "GULE GENDING, HARMONI BUNYI YANG TERLUPA"
Posting Komentar